|
30-10-2009 Coba Bayangkan Dua Puluh Tahun Mendatang Oleh: Gatot, Puspenkum Kejagung Melepas penyu di pantai, satu hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Selama ini, pemandangan tersebut hanyalah kusaksikan berupa tayangan di televisi. Itupun, hanyalah berupa hiburan dan tidak menimbulkan kesan apa-apa.
Pandangan itu berubah ketika saya berkesempatan mengunjugi Pusat Konservasi Alam Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Dalam kunjungan yang berlangsung selama dua hari itu, saya berkenalan langsung dengan biota laut. Dan pada saat itu pula, saya melihat puluhan tukik, sebutan untuk anak penyu berlarian di tepi pantai, menyongsong ombak.
Diantara rangkaian wisata bahari yang saya ikuti, melepas tukik di pantai adalah hal yang paling berkesan. Bukan hanya karena pengalaman yang baru pertama kalinya itu, tapi karena pelajaran yang dapat saya petik dari peristiwa itu.
Bayangkan, dari 1000 ekor tukik, hanya 2 ekor yang dapat bertahan hidup hingga mencapai usia produktif. Lalu, kemana 998 ekor tukik atau calon penyu dewasa lainnya? Sebagian besar mereka mati tersangkut jaring nelayan, menjadi santapan predator ditengah laut hingga ancaman perburuan manusia. Padahal sebelumnya, di saat tukik-tukik itu masih bersembunyi dibalik cangkang telur, mereka pun sudah terancam dari tangan-tangan manusia yang hendak menjarahnya.
Lalu saya kembali menghitung-hitung. Hanya dua penyu yang mampu bertahan hidup hingga usia produktif. Artinya, pertumbuhan populasi mahkluk dua alam ini tidak secepat pertumbuhan manusia. Sedangkan jumlah manusia pemburu hewan ini dua kali lipat lebih banyak. Yang lalu terbayang di benak saya kemudian adalah, mungkin dua puluh tahun lagi, ketika tukik-tukik ini sudah siap untuk bereproduksi, dia akan kesulitan mencari pasangannya untuk membuahi sel telurnya. Lalu, pelan-pelan regenerasi mereka akan terputus dengan sendirinya.
Tayangan-tayangan tentang alam dan mahkluk hidupnya di televisi, yang selama inisekedar menjadi hiburan pengisi waktu luang kini menjadi satu hal yang luar biasa bagi saya. Ternyata, melakukan sedikit satu perbuatan yang bersahabat dengan alam dapat menyelamatkan mahkluk hidup dari kepunahan. Contoh nyatanya sudah saya lihat di kepulauan Seribu ini. Jika tidak kesadaran dalam menjaga telur-telur penyu itu, mungkin tidak akan pernah saya melihat tukik-tukik menyongsong ombak di tepi pantai.
Rasa simpati terhaap hewan langka itu akhirnya membawa perubahan sikap saya terhadap alam, khususnya tanaman. Saya yang biasanya lebih suka mengutak-ngutik mobil mengisi waktu libur, kini mulai rajin membantu istri membenahi kebun mungil kami. Saya ajak anak-anak menanam pohon cemara di sudut pekarangan, belajar disiplin membuang sampah di tempatnya, dan peduli pada bersahabat dengan alam.
Mungkin sekarang apa yang saya lakukan adalah hal yang biasa. Tapi, jika kita tidak mulai dari sekarang, dua puluh tahun mendatang, tidak hanya penyu saja yang akan kesulitan mencari pasangannya, mungkin juga bumi ini akan kehilangan warna hijaunya. |